Kajian Umum

Hukum Shalat Jumat Pengidap Virus Corona

Ahmad AlfajriHukum Shalat Jumat Pengidap Virus Corona

Hukum Shalat Jumat Pengidap Virus Corona
Hukum Shalat Jumat Pengidap Virus Corona

Shalat Jumat hukumnya wajib bagi setiap lelaki yang mukallaf. Kewajiban shalat Jumat dilandasi dari ayat Alquran dan dan berbagai hadis nabi.

Dalam kitab kuning dapat kita temukan juga penjelasan tentang ancaman bagi lelaki yang tidak mengerjakan shalat Jumat tanpa ada uzur.

Ditengah mewabahnya virus Corona, muncul sebuah problema dan dilema terkait dengan pelaksanaan Shalat Jumat. Di satu sisi, shalat Jumat adalah kewajiban dan di sisi yang lain menjaga kesehatan dan keselamatan juga kewajiban.

Menjaga keselamatan dan kesehatan baik individu maupun kolektif adalah kewajiban. Buktinya bahwa Dalam hukum fiqih adalah sebuah kewajiban untuk berobat saat sakit. Menjaga kebersihan agar tidak menyebabkan penyakit juga sebuah kewajiban, bahkan termasuk dari setengah iman.

Pada artikel ini, kami ingin menulis tentang hukum shalat jum’at bagi individu yang yang terkena virus Corona. Manakah yang harus didahulukan, kewajiban shalat Jumat ataukah kewajiban menjaga keselamatan dan kesehatan orang lain.

Atau memang berlaku hukum haram bagi sosok yang terjangkit virus Corona untuk mendatangi masjid?

Shalat Jumat Bagi Pengidap Penyakit Menular

Perlu dicatat bahwa Islam mengakui adanya penyakit menular. Hal ini tercermin dari sabda Nabi :

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ

Menghindarlah dari pengidap penyakit lepra seperti engkau menghindar dari singa

Khatib Syarbini dalam kitab Mughni Muhtaj mengutip sebuah pernyataan dari Imam Syafi’i:

الجذام والبرص مما يزعم أهل العلم بالطب والتجارب أنه يعدي كثيرا، وهو مانع للجماع لا تكاد نفس أحد أن تطيب أن يجامع من هو به، والولد قل ما يسلم منه

Lepra dan kusta adalah salah satu penyakit yang diduga oleh pakar kedokteran dapat menular secara massif. Penyakit tersebut dapat mencegah hubungan badan, hampir pasti tidak ditemukan seseorang yang bersedia berhubungan badan dengan pengidap penyakit tersebut. Anak pengidap penyakit tersebut jarang sekali selamat dari penularan penyakit yang diderita bapak/ibu biologisnya”

Adapun sabda Nabi bahwa “tidak ada penyakit menular” tidak boleh diartikan bahwa Islam tidak mengakui adanya penularan penyakit. Pernyataan Nabi tersebut konteksnya adalah membantah aqidah umat jahiliyah. Mereka meyakini bahwa penularan sebuah penyakit tidak berkaitan dengan kehendak Allah. Tetapi murni karena kekuatan virus itu sendiri.

Baca Juga :  Cara Mengendalikan Hawa Nafsu Amarah

Dalam tinjauan fikih, sosok yang terjangkit virus Corona atau mengidap penyakit menular maka kewajiban shalat Jumat tidak berlaku bagi mereka.

Ada beberapa penyebab tidak berlakunya kewajiban shalat Jumat bagi penderita virus korona atau penyakit menular.

Menimbulkan rasa tidak nyaman

Penderita virus Corona atau penyakit menular pastilah akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi jamaah lain, jika dirinya hadir ke masjid. Penyakit menular seperti kusta akan menimbulkan bau tidak enak yang menyengat. Pengidap virus korona akan membuat jamaah lain bukan hanya merasa tidak nyaman, bahkan terancam keselamatannya.

Menimbulkan rasa tidak nyaman bagi jamaah lain adalah salah satu faktor gugurnya kewajiban salat Jumat.

Syekh Abdul Hamid al-Syarwani dalam Kitab Hasyiyah Syarwani mengutip pernyataan Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli berkaitan dengan hal di atas:

عبارة النهاية ومثل ذلك من بثيابه أو بدنه ريح كريهة كدم فصد وقصاب وأرباب الحرف الخبيثة وذي البخر والصنان المستحكم والجراحات المنتنة والمجذوم والأبرص ومن داوى جرحه بنحو ثوم؛ لأن التأذي بذلك أكثر منه بأكل نحو الثوم

Redaksi kitab al-Nihayah; Disamakan dengan hal tersebut di atas (pengonsumsi semisal bawang yang menyebabkan bau mulut tidak sedap) yaitu orang yang di pakaian atau badannya terdapat bau yang dibenci (tidak sedap) seperti darah bekam, tukang kayu dan pekerja-pekerja rendahan, orang yang memiliki bau mulut yang akut, pengidap luka-luka yang berbau anyir, pengidap lepra dan kusta serta orang yang pengobatan lukanya membutuhkan semisal bawang, sebab mengganggu jamaah dengan hal yang tersebut di atas lebih besar dari mengonsumsi semisal bawang

Gugurnya Kewajiban Shalat Jumat

Penderita penyakit menular seperti kusta dan pengidap virus corona gugur kewajiban Shalat Jumat. Bahkan, bukan hanya sekedar gugur kewajiban, tetapi juga dilarang masuk ke mesjid dan berinteraksi dengan orang lain yang sehat.

Baca Juga :  Cara Berbakti Kepada Orang Tua

Masih dalam Kitab Hasyiyah Syarwani:

ومن ثم نقل القاضي عياض عن العلماء منع الأجذم والأبرص من المسجد، ومن صلاة الجمعة، ومن اختلاطهما بالناس.

“Dan karena pertimbangan di atas, al-Qadli ‘Iyadl mengutip dari para Ulama perihal tercegahnya pengidap penyakit lepra dan kusta dari memasuki masjid, melaksanakan shalat Jumat dan bergemul dengan manusia (yang sehat)”.

Demikian saja artikel kami tentang hukum shalat Jumat bagi pengidap penyakit menular seperti lepra dan juga virus corona. Semoga bermanfaat. Terima Kasih.

Lihat Semuanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker