Kajian UmumPendidikan

Memahami Strategi Dakwah Nabi di Mekah

Sofyan Memahami Strategi Dakwah Nabi di Mekah

Memahami Strategi Dakwah Nabi di Mekah
Memahami Strategi Dakwah Nabi di Mekah

Perjuangan dakwah Nabi Muhammad adalah selama 23 tahun.

Tiga belas tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Kota Madinah.

Dalam durasi 23 tahun itu, Rasulullah sudah berhasil mengubah pola pikir manusia yang jahiliyah menjadi pola pikir yang bertauhid.

Pada artikel kali ini kami akan mensharing Strategi Dakwah Nabi di Mekah.

Dakwah Secara Sembunyi Sembunyi

Rasulullah Saw memulai dakwahnya secara sembunyi-sembunyi, menyeru manusia untuk beriman kepada Allah Swt, menganut agama Tauhid dan mengenalkan bahwa Tuhan itu satu, yaitu Allah Swt.

Dakwah secara sembunyi-sembunyi ini dilakukan untuk menghindari munculnya gejolak yang sangat mungkin terjadi di kalangan masyarakat. Beliau memulai dakwah kepada keluarga dan karib kerabatnya.

Beliau mengetahui bahwa orang Quraisy sangat terikat, fanatik, dan kuat mempertahankan kepercayaan jahiliyyah. Dakwah secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama 3-4 tahun.

Empat tahun pertama merupakan masa Rasulullah Saw mempersiapkan diri, menghimpun kekuatan dan mencari pengikut setia.

Seiring dengan itu, wahyu yang turun pada masa itu secara umum bersifat mendidik, membimbing, membina, mengarahkan dan memantapkan hati dalam rangka mewujudkan kesuksesan dakwahnya.

Rasulullah Saw dibekali dengan wahyu yang mengandung pengetahuan dasar mengenai sifat Allah Swt dan penjelasan mengenai dasar akhlak Islam.

Selain itu, wahyu saat itu sebagai bantahan secara umum tentang pandangan hidup masyarakat jahiliyyah yang berkembang saat itu.

Orang pertama yang menyatakan keislamannya (Assabiqunal Awwalun) adalah :

a. Khadijah (istrinya)

b. Ali bin Abi Thalib

c. Zaid bin Haritsah (anak angkatnya)

d. Abu Bakar (sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak)

e. Ummu Aiman (pengasuh beliau sejak masa kecil)

Melalui Abu Bakar, pengikut Rasulullah Saw bertambah, mereka adalah :

a. Abd Amar bin Auf (kemudian berganti nama menjadi Abdur Rahman bin Auf)

Baca Juga :  Doa Niat Puasa Qadha Ramadhan Lengkap

b. Abu Ubaidah bin Jarrah

c. Usman bin Affan

d. Zubair bin Awwam

e. Sa’ad bin Abi Waqqas

f. Arqam bin Abi Al Arqam g. Fathimah bin Khattab

h. Talhah bin Ubaidillah dan sebagainya.

Dakwah Terang-terangan

Tiga tahun lamanya Rasulullah Saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah sahabat Arqam bin Abi Al Arqam. Penduduk Makkah banyak yang sudah mengetahui dan mulai membicarakan agama baru yang beliau bawa.

Mereka menganggap agama itu sangat bertentangan dengan agama nenek moyang mereka. Pada waktu itu turunlah wahyu yang memerintahkan kepada beliau untuk melakukan dakwah secara terbuka dengan terang-terangan kepada seluruh masyarakat. Allah Swt berfirman dalam QS. Al Hijr ayat 94.

Dengan turunnya ayat tersebut, Rasulullah Saw. mulai berdakwah secara terang- terangan.

Dakwah ini membuat seorang tokoh Bani Giffar yang tinggal di Barat Laut Merah menyatakan diri masuk Islam.

Ia adalah Abu Zar Al-Giffari. Atas perintah Rasulullah Saw kemudian Abu Zar Al-Giffari pulang untuk berdakwah di kampungnya. Sejak itulah banyak orang yang masuk Islam berkat Abu Zar Al- Giffari.

Melalui cara itu pula, Bani Daus juga masuk Islam. Orang pertama Bani Daus yang masuk Islam adalah Tufail bin Amr ad Dausi, seorang penyair terpandang di kabilahnya.

Dengan demikian, Islam mulai tersebar di luar Makkah.

Keberhasilan Rasulullah Saw dalam berdakwah mendorong kaum kafir Quraisy melancarkan tindakan kekerasan terhadap beliau dan pengikutnya.

Di tengah meningkatnya kekejaman pemimpin kafir Quraisy, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab, dua orang kuat Quraisy masuk Islam.

Hal ini membuat kaum kafir Quraisy mengalami kesulitan untuk menghentikan dakwah Rasulullah Saw.

Kisah Penentangan Abu Lahab

Suatu ketika, Rasulullah Saw melakukan dakwah secara terbuka di Bukit Shafa dengan memanggil semua suku yang ada di sekitar Makkah.

Baca Juga :  Manfaat Puasa Ramadhan Bagi Kesehatan Tubuh

Untuk mengetahui apa yang akan disampaikan Muhammad, semua suku mengirimkan utusannya. Bahkan Abu Lahab, paman beliau pun hadir bersama istrinya (Ummu Jamil).

Rasulullah Saw berseru, ”Jika saya katakan kepada kamu bahwa di sebelah bukit ada pasukan berkuda yang akan menyerangmu, apakah kalian percaya?”.

Mereka menjawab, ”Kami semua percaya, sebab kamu seorang yang jujur dan kami tidak pernah menemui kamu berdusta”.

Rasulullah Saw kemudian berseru kembali:

“Saya peringatkan kamu akan siksa di hari kiamat. Allah Swt menyuruhku untuk mengajak kamu menyembah kepada Nya, yaitu Tuhanku dan Tuhanmu juga, yang menciptakan alam semesta termasuk yang kamu sembah. Maka tinggalkanlah Latta, Uzza, Manat, Hubal dan berhala- berhala lain sesembahanmu”.

Mendengar seruan tersebut Abu Lahab mencaci maki seraya berkata, ”Hari ini kamu (Muhammad) celaka. Apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami semua?”.

Selanjutnya Rasulullah Saw termenung sejenak memikirkan reaksi keras dari kaumnya yang menentang dakwahnya.

Kemudian, turun wahyu yang menerangkan bahwa yang celaka bukanlah beliau, tetapi Abu Lahab sendiri.

Allah Swt berfirman dalam QS. Al Lahab ayat 1-5.

Reaksi Kaum Musyrik

Setelah peristiwa di Bukit Shafa tersebut, para pemimpin Qurays bereaksi dengan melakukan sebagai berikut:

a. Mendatangi Abu Thalib, paman yang mengasuh Rasulullah Saw. Mereka meminta Abu Thalib untuk mencegah kegiatan dakwah yang dilakukan keponakannya, tetapi tidak berhasil.

b. Kaum kafir Quraisy mengutus Walid bin Mughirah dengan membawa seorang pemuda untuk ditukarkan dengan Muhammad Saw. Mereka akan bangkit memerangi Rasulullah Saw.

Ancaman keras ini nampaknya berpengaruh pada diri Abu Thalib. Lalu ia memanggil ponakannya untuk berhenti dari dakwahnya.

Namun, Rasulullah Saw tetap tegar dan menolak permintaan pamannya dengan berkata, “Demi Allah Swt, biarpun matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan menghentikan dakwah agama Allah Swt ini hingga agama ini menang atau aku binasa karenanya”.

Baca Juga :  Cara Menghindari Sifat Ujub

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Rasulullah Saw meninggalkan Abu Thalib seraya menangis. Abu Thalib memanggilnya kembali, seraya berkata, “Wahai anak saudaraku! Pergilah dan katakanlah apa yang kamu kehendaki (dakwah). Demi Allah Swt, aku tidak akan menyerahkanmu kepada mereka selamanya”.

c. Mengutus Utbah bin Rabi’ah, seorang ahli retorika untuk membujuk Rasulullah Saw. Mereka menawarkan tahta dan harta, asalkan beliau bersedia menghentikan dakwahnya. Tawaran itu pun ditolak keras oleh Rasulullah Saw.

d. Melakukan tindakan kekerasan secara fisik terhadap orang yang masuk Islam.

Budak yang masuk Islam disiksa dengan kejam seperti Bilal bin Rabah, Amir bin Fuhairah at Tamimi, Ummu Ubais, an Nadhiyah serta anaknya, Al Mu’ammiliyah, dan Zinirah.

Zinirah disiksa hingga matanya buta, sedang Ummu Amar bin Yair binti Kubath, budak wanita Bani Makhzum disiksa sampai mati.

Bahkan Usman bin Affan pun pernah dikurung dan dipukuli dalam kamar gelap oleh saudaranya.

Tekanan-tekanan ini ternyata tidak membuat Islam dijauhi. Sebaliknya, umat Islam semakin bertambah.

Keluarga Nabi Diboikot

Hal ini membuat Abu Jahal menekan kepada semua pemimpin Quraisy untuk melakukan pemboikotan kepada Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

Isi surat pemboikotan itu adalah sebagai berikut :

a. Muhammad dan kaum keluarga serta pengikutnya tidak diperbolehkan menikah dengan bangsa Arab Quraisy lainnya, baik laki-laki maupun perempuan.

b. Muhammad dan kaum keluarga serta pengikutnya tidak boleh mengadakan hubungan jual beli dengan kaum Quraisy lainnya.

c. Muhammad dan kaum keluarga serta pengikutnya tidak boleh bergaul dengan kaum Quraisy lainnya

d. Kaum Quraisy tidak dibenarkan membantu dan menolong Muhammad, keluarga ataupun pengikutnya

Lihat Semuanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker