Tafsir

Memahami Tafsir Lafaz Huda Pada Surat Al Baqarah Ayat 2

Ahmad AlfajriMemahami Tafsir Lafaz Huda Pada Surat Al Baqarah Ayat 2

Memahami Tafsir Lafaz Huda Pada Surat Al Baqarah Ayat 2
Memahami Tafsir Lafaz Huda Pada Surat Al Baqarah Ayat 2

Jumlah lafaz Huda dalam berbagai bentuk derivasinya, disebutkan dalam Al Quran sebanyak 316 ayat. Jumlah ini adalah menurut hitungan pribadi saya. Ada juga yang menyatakan jumlahnya mencapai 321 kali. Berarti, ada dalam satu ayat terdapat 2 kali penyebutan lafaz Huda.

Ada yang disebutkan dalam bentuk Fi’il Madhi seperti dalam Surat Al Baqarah 143, Fi’il Mudhari’ seperti dalam surat Al Baqarah 26, Fi’il Amar seperti dalam Surat As Shaffat 23.

Lafaz Huda dalam berbagai bentuk derivatif sudah disebutkan oleh Allah pada Tiga surat pertama dalam Al Quran sesuai dengan urutan Mushaf Ustmani yaitu Surat Al Fatihah, Surat Al Baqarah dan Surat Ali Imran.

Setiap lafaz Huda dalam Al Quran, memiliki makna yang berbeda. Lafaz Huda kadang diartikan sebagai Al Quran seperti dalam Surat Al Baqarah 159. Lafaz Huda kadang juga diartikan sebagai Taurat seperti dalam Surat Ghafir 53.

Jadi, makna Huda dalam Al Quran memiliki beragam makna. Tergantung pada konteks dan munasabah ayat. Disitulah salah satu letak keindahan gaya bahasa Al Quran. Untuk memahami tafsir dan maknanya tentu harus menguasai ayat ayat dan bahkan surat sebelumnya.

Al Quran tidak bisa diartikan dan ditafsirkan secara serampangan. Menafsirkan satu ayat dengan hanya bermodalkan satu ayat itu saja, tentu akan sangat berbahaya. Perlu banyak modal mumpuni seperti Nahwu, Sharaf, Balaghah, Ilmu Al Quran, Ilmu Hadits dan lain sebagainya sebelum masuk dalam dunia penafsiran.

Makna Huda dalam Surat Al Baqarah ayat 2

Sesuai dengan beberapa periwayatan para Sahabat Nabi dan juga generasi Tabi’in, ada tiga makna Huda yang dapat ditafsirkan pada Surat Al Baqarah ayat 2:

Petunjuk (Hidayah)

As Sya’bi salah seorang ulama besar generasi Tabi’in menjelaskan bahwa makna kata Huda dalam Surat Al Baqarah ayat 2 adalah petunjuk (hidayah) dari kesesatan.

Penafsiran ini sangat sesuai jika ditinjau dari segi munasabah antara Surat Al Baqarah dan Surat Al Fatihah. Dalam Surat Al Fatihah, kaum muslimim berdoa kepada Allah agar diberikan petunjuk agar dapat menuju pada jalan yang lurus (Sirath al Mustaqim).

Dan pada ayat ke 2 Surat Al Baqarah, Allah menjawab doa dan permintaan umat Islam bahwa petunjuk itu adalah Al Quran. Jika ingin agar tidak tersesat jalan, ikutilah petunjuk petunjuk yang ada dalam Al Quran.

Cahaya (Nur)

Menurut beberapa Sahabat Nabi pakar Tafsir seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud, kata Huda pada Al Baqarah ayat 2 bermakan Cahaya (Nur).

Secara bahasa, siang dapat disebut sebagai hidayah. Sebab, saat itu ada cahaya yang dapat digunakan oleh manusia untuk melihat seluruh arah yang ada. Manusia hanya perlu memilih arah yang sesuai dengan destinasi tujuannya.

Al Quran adalah cahaya hakiki yang menerangi perjalanan umat Islam di dunia agar tidak salah jalur. Jika manusia tidak mau menggunakan cahaya Al Quran dan lebih memilih mengikuti kerdipan cahaya fatamorgana, maka dapat dipastikan tidak akan pernah sampai pada tujuan utama.

Penjelas (Tibyan)

Sa’id bin Jabir, salah seorang ulama tafsir generasi Tabi’in menjelaskan bahwa makna kata Huda dalam Surat Al Baqarah ayat 2 adalah penjelas (Tibyan).

Penafsiran ini sesuai dengan fungsi dari Al Quran itu sendiri yaitu menjadi penjelas (Bayan) bagi manusia atas semua aspek. Dalam Al Quran ada beberapa ayat yang mendukung penafsiran seperti ini seperti Surat Ali Imran 138 dan Surat An Nahlu 89.

Jika ragu, kurang paham dan tidak mengerti terhadap sebuah problema hukum maka bukalah Al Quran. Disana ada penjelas (Tibyan) yang akan memberikan solusi atas problematika yang sedang dihadapi.

Penjelas (Tibyan) disini tidak boleh diartikan bahwa semua permasalahan hukum sudah termaktub dalam Al Quran. Tibyan harus diartikan bahwa dalam Al Quran ada solusi hukum. Kadang-kadang disebut secara ekspilisit dan ada juga yang disebut secara implisit.

Salah satu makna Tibyan juga adalah mengarahkan manusia untuk meneliti Hadis. Jika tidak mampu menemukan solusi hukum dalam Al Quran, caranya adalah menelaah Hadis hadis Nabawi. Inilah salah satu fungsi Tibyan dan sesuai dengan firman Allah Surat Al Hasyar ayat 7.

Dan jika belum mampu juga menemukan dalam Hadis Nabawi, Al Quran memberikan penjelas (Tibyan) agar menggunakan Qiyas. Hal ini sesuai dengan firman Allah Surat Al Hasyar ayat 2.

Tags
Lihat Semuanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker