Pendidikan

Sejarah Singkat Gerakan 30 S PKI

Ahmadalfajri.comSejarah Singkat Gerakan 30 S PKI

Sejarah Singkat Gerakan 30 S PKI
Sejarah Singkat Gerakan 30 S PKI

Ada 5 teori tentang peristiwa G30S/PKI

Pertama, G30S adalah persoalan internal TNI AD.

Kedua, G30S PKI didalangi oleh CIA

Ketiga, keterlibatan Presiden Soekarno dan G30S PKI.

Keempat, G30S PKI adalah kepentingan Amerika dan Inggris.

Kelima, PKI bukan merupakan pelaku tunggal.

Terlepas dari ke 5 teori tentang peristiwa berdarah G 30 S PKI yang terjadi di Indonesia.

Sepak terjang PKI masih begitu terasa memilukan dan merupakan perjalanan sejarah yang kelam bagi perjalanan politik Indonesia pada awal kemerdekaan.

Peristiwa G30S/PKI atau biasa disebut dengan Gerakan 30 September merupakan salah satu peristiwa pemberontakan komunis yang terjadi pada bulan September sesudah beberapa tahun Indonesia merdeka.

Peristiwa G30S PKI terjadi di malam hari tepatnya pada tanggal 30 September tahun 1965.

Dalam sebuah kudeta, setidaknya ada 7 jendral korban pki yang terbunuh dalam peristiwa tersebut.

Pierre Tendean

Lulus dari akademi militer pada tahun 1961 dengan pangkat letnan dua, Tendean menjadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan.

Setahun kemudian, ia mengikuti pendidikan di sekolah intelijen di Bogor.

Setamat dari sana, ia ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) untuk menjadi mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia, bertugas memimpin sekelompok relawan di beberapa daerah untuk menyusup ke Malaysia.

Pada tanggal 15 April 1965, Tendean dipromosikan menjadi letnan satu, dan ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution.

Saat itu tanggal 1 Oktober dini hari pukul 03.30 WIB, di Ruang tamu, Lettu Piere sedang beristirahat, tanggal 30 September keamrin seharusnya dia pulang ke Semarang untuk merayakan ulang tahun ibunya, tapi karena tugasnya sebagai pengawal jendral AH. Nasution, ia harus menundanya.

Di saat beristirahat inilah dia mendengar keributan, sebagai seorang pengawal, iapun bergegas mencari sumber keributan tersebut.

Piere kaget karena penyebabnya adalah pasukan Cakrabirawa, meraka lantas mengepung dan menodongkan senjata.

Piere tak berkutik. Melihat hal yang tak beres demi melindungi atasannya, Piere mengaku jika dirianya adalah Jendral Nasution yang dicari pasukan Cakrabirawa.

Baca Juga :  Kedatangan Bangsa Portugis Ke Indonesia

“Saya jendreal Nasutiom” serunya kepada pasukan cakrabirawa.

Pasukan Cakrabirawapun langsung membawanya ke lubang buaya untuk disiksa dan akhirnya dibunuh dengan cara yang keji.

Ade Irma Suryani Nasution

Tembakan dari pasukan cakrabirawa seketika melesat, masuk ke tangan Adik Ipar Johana ibu Ade Irma Suryani Nasution, lalu menembus punggung gadis kecil Ade.

Darah membasahi tubuh si mungil yang tak berdosa itu hingga menggenang ke lantai.

Ade Irma sempat dibawa ke RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) untuk diberikan pertolongan.

Ade irma sempat bertanya ke pada mamanya “kenapa Ayah mau dibunuh, mama?

Ade Irma Suryani, Akhirnya mengembuskan tanggal 6 Oktober 1965.

Di depan nisan anaknya AH nasution menuliskan kata-kata “Anak saya yang tercinta, engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ayahmu”.

Dalang G30S PKI

Lalu siapakah yang harus bertanggung jawab terhadap tragedi berdarah ini?.

Dipa Nusantara Aidit merupakan salah seorang dalam kebinet Dwikora, sekaligus ketua Central Committee (CC) Partai Komunis Indonesia.

Dialah yang dianggap oleh pemerintah Orde baru, bertanggung jawab atas gerakan 30 September 1965 (G 30 S PKI).

Pada tahun 1965 PKI kembali berhasil menjadi partai besar no 4 di Indonesia sebelum terjadinya peristiwa di Lubang Buaya.

Sejak dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, sejak itu pula presiden Soekarno mengenalkan “Demokrasi Terpimpin”.

Demokrasi Terpimpin oleh satu orang yaitu presiden Sekarno.

PKI menyambut “Demokrasi Terpimpin” Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM.

Sejak Demokrasi Terpimpin secara resmi dimulai, Indonesia memang diwarnai dengan figur Soekarno yang menampilkan dirinya sebagai penguasa tunggal di Indonesia.

Soekarno juga menjadi kekuatan penengah antara kelompok politik besar yang saling mencurigai Usul pembentukan angkatan ke 5 selain AD-AU-AL-Polisi yang dikemukakan oleh PKI pada Januari 1965, diakui memang semakin memperkeruh suasana terutama dalam hubungan antara PKI dan AD.

Tentara telah membayangkan bagaimana 21 juta petani dan buruh bersenjata, bebas dari pengawasan mereka.

Baca Juga :  Mengenal Perangkat Lunak Komputer dan Fungsinya

Bagi para petinggi militer gagasan ini bisa berarti pungkuhan aksi politik yang matang, bermuara pada dominasi PKI yang hendak mendirikan pemerinahan komunis yang pro RRC (Republik Rakyat Cina) yang komunis di Indonesia.

Usulan ini akhirnya memang gagal direalisasikan.

Propaganda PKI

Oleh karena itu akhirnya PKI meniupkan isu dewan jendral di tubuh AD yang tengah mempersiapkan suatu kudeta.

Dan PKI memperkuat aksi fitnah dengan menyodorkan “dokumen Gilchrist”.

Di akhir 1964 dan permulaan 1965 ribuan petani bergerak merampas tanah yang bukan hak mereka atas hasutan PKI.

Bentrokan-bentrokan besar terjadi antara mereka dan polisi dan para pemilik tanah.

Bentrokan-bentrokan tersebut dipicu oleh propaganda PKI yang menyatakan bahwa petani berhak atas setiap tanah, tidak peduli tanah siapapun (milik negara = milik bersama).

Tepatnya tanggal 1 Oktober dini hari pasukan Cakrabirawa dibawah pimpinan letnan kolonel Untung secara memulai aksinya dengan target melakukan aksi penculikan terhadap 7 jendral.

Pasukan Cakrabirawa bergerak dari lapangan udara menuju Jakarta daerah selatan.

Tujuh jenderal tersebut adalah Ahmad Yani. MT Haryono, D.I Panjaitan yang langsung dibunuh dirumah masing-masing.

Sementara Soeprapto, S.Parman dan Sutoyo ditangkap hidup-hidup kemudian disiksa dan dibunuh oleh PKI.

Satu target PKI lolos dan mampu melarikan diri ketika segerombolan pasukan Cakrabirawa mengepung rumahnya, dia melompat pagar rumah dubes Irak yang bersebelahan rumah.

Jenazah para korban lalu dimasukkan ke dalam sumur tua di daerah lubang buaya.

Jam 7 pagi, Radio Republik Indonesia (RRI) menyiarkan sebuah pesan yang berasal dari Untung Syamsuri, Komandan Cakrabiwa bahwa G30S PKI telah berhasil diambil alih di beberapa lokasi stratergis Jakarta beserta anggota militer lainnya.

Mereka bersikeras bahwa gerakan tersebut sebenarnya didukung oleh CIA yang bertujuan untuk melengserkan Soekarno dari posisinya.

Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI

Operasi penumpasan G 30 S/PKI dimulai sejak tanggal 1 Oktober 1965 sore hari.

Gedung RRI pusat dan Kantor Pusat Telekomunikasi dapat direbut kembali tanpa pertumpahan darah oleh satuan RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, pasukan Para Kujang/328 Siliwangi, dan dibantu pasukan kavaleri.

Baca Juga :  Negara Negara Yang Mendukung Kemerdekaan Indonesia

Setelah diketahui bahwa basis G 30 S/PKI berada di sekitar Halim Perdana Kusuma, sasaran diarahkan ke sana.

Pada tanggal 2 Oktober, Halim Perdana Kusuma diserang oleh satuan RPKAD di bawah komando Kolonel Sarwo Edhi Wibowo atas perintah Mayjen Soeharto.

Pada pukul 12.00 siang, seluruh tempat itu telah berhasil dikuasai oleh TNI – AD.

Pada hari Minggu tanggal 3 Oktober 1965, pasukan RPKAD yang dipimpin oleh Mayor C.I Santoso berhasil menguasai daerah Lubang Buaya.

Lubang Buaya

Setelah usaha pencarian perwira TNI – AD dipergiat dan atas petunjuk Kopral Satu Polisi Sukirman yang menjadi tawanan G 30 S/PKI, tetapi berhasil melarikan diri didapat keterangan bahwa para perwira TNI – AD tersebut dibawah ke Lubang Buaya.

Karena daerah terebut diselidiki secara intensif, akhirnya pada tanggal 3 Oktober 1965 titemukan tempat para perwira yang diculik dan dibunuh tersebut.

Mayat para perwira itu dimasukkan ke dalam sebuah sumur yang bergaris tengah ¾ meter dengan kedalaman kira – kira 12 meter, yang kemudian dikenal dengan nama Sumur Lubang Buaya.

Pada tanggal 4 Oktober, penggalian Sumur Lubang Buaya dilanjutkan kembali (karena ditunda pada tanggal 13 Oktober pukul 17.00 WIB hingga keesokan hari) yang diteruskan oleh pasukan Para Amfibi KKO – AL dengan disaksikan pimpinan sementara TNI – AD Mayjen Soeharto.

Jenazah para perwira setelah dapat diangkat dari sumur tua tersebut terlihat adanya kerusakan fisik yang sedemikian rupa.

Hal inilah yang menjadi saksi bisu bagi bangsa Indonesia betapa kejamnya siksaan yang mereka alami sebelum wafat.

Pada tanggal 5 Oktober, jenazah para perwira TNI – AD tersebut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata yang sebelumnya disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat.

Pada tanggal 6 Oktober, dengan surat keputusan pemerintah yang diambil dalam Sidang Kabinet Dwikora, para perwira TNI – AD tersebut ditetapakan sebagai Pahlawan Revolusi.

Demikian saja artikel yang dapat kami bagikan tentang Sejarah Singkat Gerakan 30 S PKI.

Nonton dan download film g 30 s pki pada link berikut ini. Klik Disini. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Lihat Semuanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker