Kumpulan Doa Doa

Shalawat Munjiyat

Ahmad AlfajriShalawat Munjiyat

Shalawat Munjiyat

Salah satu Shalawat yang populer di telinga masyarakat Indonesia adalah Shalawat Munjiyat. Biasanya dibaca dalam berbagai acara keagamaan dan juga setelah shalat fardhu lima waktu. Secara bahasa Shalawat ( الصلوات ) merupakan bentuk jamak dari kata Shalat ( الصلاة )

Makna shalawat itu sendiri tergantung kepada siapa yang bershalawat dan kepada siapa shalawat itu ditujukan. Jika Allah yang bershalawat kepada Nabi maka artinya adalah rahmat. Sedangkan shalawat umat kepada Nabi bermakna doa dan permohonan kebaikan.

Munjiyat bermakna keselamatan. Jadi Shalawat Munjiyat dibaca dengan harapan agar Allah menyelamatkan dan menghindarkan pembaca dari segala keburukan yang sedang atau akan dihadapinya.

Hukum Membaca Shalawat Munjiyat

Pada dasarnya, membaca selawat adalah perintah Allah kepada orang yang beriman. Adapun redaksi shalawat itu sangat beragam. Membaca Shalawat Munjiyat berarti seorang mukmin sedang mengamalkan perintah Allah dalam Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya

Munculnya pertanyaan Apa hukum membaca Shalawat Munjiyat disebabkan ada pernyataan dari beberapa tokoh bahwa membaca Shalawat Munjiyat adalah Haram dan Bid’ah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi.

Pendapat Dr. Muhammad as-Syarif

Lalu benarkah haram dan Bid’ahkah membaca Shalawat Najiyat?. Mari kita simak pernyataan seorang Professor dari Fakultas Syariah Universitas Kuwait, Dr. Muhammad As-Syarif. Beliau menjelaskan:

ولما سأل الصحابة رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم كيف يصلون عليه ؟ علمهم الصيغة المعروفة بالصلاة الإبراهيمية ” اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

Para Sahabat bertanya kepada Nabi tentang cara bershalawat kepada beliau. Nabi menjelaskan Sighat Shalawat yang sudah populer yaitu Shalawat Ibrahimiyyah, yaitu: Allahumma Shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad, ka ma shallaita ala Ibrahim wa ala Ali Ibrahim. Wa Barik ala Muhammad wa ala Ali Muhammad ka ma Barakta ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim fil Alamina Innaka Hamidum Majid.

Salah satu bentuk redaksi Shalawat sebagai bentuk implementasi atas perintah bershalawat kepada Nabi oleh orang yang beriman adalah Shalawat Ibrahimiyyah. Sebuah redaksi selawat yang cukup populer karena kita baca dalam shalat saat duduk tasyahhud akhir.

Shalawat Ibrahimiyah dan Lafaz Sayyidina

Selanjutnya, Dr. Muhammad As-Syarif menjelaskan:

واستحب كثير من العلماء إضافة لفظ السيادة إلى اسمه العزيز . وهي أفضل صيغ الصلاة عليه ، ولكنه لم يمنع من غيرها من الصيغ . وكذلك الأمر بالدعاء جاء مطلقا ” وقال ربكم ادعوني استجب لكم

Mayoritas ulama mensunahkan menambahkan kalimat Sayyidina di belakang Nama Nabi yang mulia. Shalawat Ibrihimiyyah adalah redaksi Shalawat yang paling utama. Cuma, tudak ada larangan menggunakan redaksi redaksi lainnya. Sama halnya dengan perintah berdoa, dimana redaksinya bisa digunakan dalam bahasa apa saja. Allah berfirman: Berdoalah padaku maka akan aku terima.

Mayoritas ulama berpandangan bahwa dalam membaca Shalawat Ibrahimiyyah, lebih baik ditambah lafaz Sayyidina. Hal ini sangat berkaitan dengan Adab. Ada sedikit kekurangan dari aspek etika, jika kita memanggil orang yang lebih mulia dengan nama langsung.

Adapun menggunakan redaksi shalawat selain Shalawat Ibrahimiyyah tidaklah dilarang. Topik pembahasan shalawat ini persis seperti topik Doa. Allah mewajibkan manusia untuk berdoa dan redaksi doa yang digunakan boleh dalam berbagai redaksi dan bahasa. Padahal dalam ayat dan Hadis, terdapat juga redaksi redaksi doa yang sudah cukup popoler.

Baca Juga : Samadiyah, Tahlil dan Doa lengkap

Baca Juga : Doa Khusus di Bulan Safar

Selanjutnya, Dr. Muhammad As-Syarif menjelaskan:

فلا بأس ان تداوم على الصلاة المذكورة ، بالصيغة التي ذكرتها ، لأنها مجربة وواردة عن بعض أولياء الله ، واظب عليها العارفون والصالحون من عباد الله . ويفضل ان تطلب بها إجازة ممن يملك إجازة بها – والله أعلم – .

Tidak apa apa seseorang melazimi bacaan Shalawat Munjiyat karena bersumber dari sebagian Waliyullah dan telah terbukti ampuh. Golongan Arif Billah dan Salihin banyak melazimi Shawalat Najiyat. Dan alangkah baiknya jika kita mau mencari Ijazah kepada orang yang punya Ijazah Shalawat Munjiyat.

Shalawat Munjiyat dan Terjemahnya

اللَهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحمَدٍ صَلاَةٌ تُنْجيْنَا بِهَا مِنَ جَمِيْعَ الأهَوْاَلِ وَالأَفَاتِ وَتَقْضِي لَنَا بها جَمِيعَ الحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَيّئاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَي الدَرَجَاتِ وَتُبَلّغُنَا بِهَا أَقْصَي الغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الخَيرَاتِ فِي الحَيَاةِ وَبَعْدَ المَمَاتِ برحمتك يا أرحم الراحمين

Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang dengan rahmat itu Engkau akan menyelamatkan kita dari semua keadaan yang mendebarkan dan dari semua cobaan yang dengan rahmat itu Engkau akan mendatangkan kepada kita hajat, Yang dengan rahmat itu Engkau akan membersihkan kita dari semua keburukan/kesalahan. Yang dengan rahmat itu Engkau akan mengangkat kita kepada setinggi-tinggi derajat. Yang dengan rahmat itu pula Engkau akan menyampaikan kita kepada sesempurna-sempurnanya semua maksud dari semua kebaikan pada waktu hidup dan setelah mati

Shalawat Munjiyat dalam bentuk tulisan latin

Mungkin ada sebagian pengunjung yang tidak mampu membaca tulisan Arab. Disini kami akan mensharing juga Shalawat Munjiyat dalam versi tulisan Latin.

Allahumma shalli ‘ala syaiyidina muhammad shalatan tunjina biha min jami’il ahwali wal afat wataqdilana biha jami’il hajat watutahhiruna biha min jami’is sayyiat watarfa’una biha a’lad darajat wa tuballighuna biha aqshal ghayat min jami’il khairati fil hayati wa ba’dal mamat. Birahmatika ya Arhamar Rahimin.

SEJARAH SHALAWAT MUNJIYAT

Adalah seorang ulama Sufi yang bernama Syekh Shalih Musa al-Dharir. Beliau merupakan seorang pengikut tariqat Syadzili. Dan beliau merupakan sosok yang membuat redaksi Shalawat Munjiyat ini.

Syekh Shalih Musa menceritakan latar belakang Shalawat Najiyat ini tercipta.

ركبت البحر الملح وقامت علينا ريح قل من ينجو منها من الغرق وضج الناسف غلبتني عيني فنمت فرايت الني صلى الله عليه وسلم وهو يقول : قل لأهل المركب يقولوا ألف مرة { اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد صلاة تنجينا بها من جميع الأهوال والآفات وتقضي لنا بها جميع الحاجات … االخ } فاستيقطت وأعلمت أهل المركب بالرؤيا فصلينا بها ثلثمائة مرة ففرج الله عنا

Aku menaiki perahu di lautan lalu kami diserang badai aqlabiyah. Sangat sedikit orang yang selamat dari badai Aqlabiyah tersebut. Tiba tiba Aku merasa diserang rasa kantuk dan tertidur, lalu aku bermimpi bertemu Nabi, beliau bersabda: Katakan kepada seluruh penumpang perahu agar mengucapkan shawalat ini sebanyak 1000 (seribu) kali. Lalu aku terbangun dan mengajarkan bacaan tersebut pada seluruh penumpang kapal. Lalu kami membaca shalawat itu 300 kali dan Allah menyelamatkan kami.

Pendapat Bid’ah dan haram membaca Shalawat Munjiyat

Disini kami kutip juga pendapat dari dua tokoh yang memfatwakan bahwa Shalawat Munjiyat ini haram dibaca dan masuk dalam kategori Bid’ah. Tujuan kami adalah agar para pembaca dapat memahami dan menganalisis sendiri bahwa betapa kaku nya mereka dalam beristinbat hukum.

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berfatwa:

وهذا الدعاء لا دليل على مشروعيته على هذه الكيفية ولا أساس له من السنة ولا أسمح لأحد أن يضيف إلى كتبي ما ليس منها وإنما المشروع للمسلم أن يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم كثيرا في كل وقت بالكيفية التي ثبتت عنه صلى الله عليه وسلم كما في حديث أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه قال : أتانا رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن في مجلس سعد بن عبادة ، فقال له بشير بن سعد : أمرنا الله تعالى أن نصلي عليك يا رسول الله . فكيف نصلي عليك ؟ قال : فسكت رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى تمنينا أنه لم يسأله . ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “قولوا اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد . والسلام كما قد علمتم

Shalawat Munjiyat ini tidak memiliki dalil syariah dan tidak ada dasarnya dari hadits. Saya tidak mengizinkan siapapun untuk menambahkan pada kitab-kitabku sesuatu yang tidak berasal dari syariah. Redaksi shalawat yang disyariahkan untuk umat Islam setiap waktu adalah yang berasal dari Nabi. Hadits dari Abi Masud Al-Anshari: Rasulullah datang pada kami saat kami berada di majlis Saad bin Ubadah. Basyir bin Saad berkata pada Nabi: Allah memerintahkan kami membaca shalawat padamu wahai Rasulullah, bagaimana cara kami bershalawat padamu? Abu Mas’ud berkata: Nabi berdiam diri sampai kami berharap Basyir bin Sa’d tidak menanyakan hal itu pada Nabi. Lalu Nabi menjawab: Katakan “اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

Muhammad Shaleh al-Munjid

Tokoh lainnya yang sangat anti dengan Shalawat Munjiyat adalah Muhammad Shaleh al-Munjid. Berikut ini adalah fatwa beliau:

هذه الصيغة في الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم صيغة محدثة ، لم ترد في السنة والآثار .وشرع الله تعالى كامل ، كما قال الله تعالى : الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الْإِسْلَامَ دِينًا. وبلغه لنا الرسول صلى اله عليه وسلم كاملاً ولم يكتم منه شيئاً ، فيكفي المسلم أن يعمل بما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم وصح عنه ، ولا حاجة إلى تشريع عبادة أو استحبابها برؤى أو منامات . فليحرص المسلم على اتباع النبي صلى الله عليه وسلم وعدم الابتداع في الدين

Teks shalawat munjiyat adalah redaksi buatan baharu yang tidak ada riwayatnya dalam hadits dan atsar. Syariah Allah itu sempurna seperti firman Allah dalam Al-Maidah ayat 3. Dan syariah telah disampaikan oleh Rasulullah secara sempurna dan beliau tidak diam sedikitpun. Maka cukuplah bagi muslim untuk mengamalkan apa yang berasal dari Nabi dan sahih riwayat darinya. Tidak ada keperluan untuk mensyariahkan atau mensunnahkan ibadah yang baru atau mensunnahkannya berdasarkan pada mimpi semata. Maka muslim hendaknya menjaga untuk tetap mengikuti ajaran Nabi dan tidak berbuat bid’ah dalam agama.

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menyimpulkan dari hadis di atas sebuah fatwa bahwa membaca Shalawat menggunakan redaksi selain yang disebutkan dalam Hadis diatas adalah haram dan tidak berlandaskan syariat.

Menurut Muhammad Saleh al-Munjid, Shalawat Munjiyat termasuk Shalawat yang Muhdasat (di buat-buat). Dikategorikan sebagai Bid’ah karena tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Cukuplah beramal dengan apa yang disampaikan oleh Nabi. Selain itu, tinggalkan. Demikian pemahaman dari pernyataan Muhammad Saleh al-Munjid.

Kesimpulannya, kedua tokoh tersebut melarang umat Islam berselawat selain dengan redaksi yang diajarkan oleh Nabi yaitu Shalawat Ibrahimiyah. Selain itu, semua redaksi shalawat adalah bid’ah. Ya, termasuk shalawat dalam bahasa bahasa daerah, karena tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Miris!!!

Tags
Lihat Semuanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker