Ahmadalfajri.com – Urgensi Itqan Dalam Setiap Amalan

Rasulullah SAW memiliki metode pengajaran yang unik dan mendalam.
Beliau tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an, tetapi juga memastikan setiap ayatnya diamalkan.
Beliau akan mengajarkan sepuluh ayat kepada para sahabat, tidak berpindah ke sepuluh ayat berikutnya hingga mereka benar-benar memahami dan mengamalkan isinya.
Dengan cara ini, Nabi Muhammad SAW menjadi teladan utama dalam kesempurnaan dan penguasaan amal, sebuah prinsip yang sangat dihargai dalam Islam.
Apa Itu Itqan al-Amal (Penguasaan Pekerjaan)?
Itqan al-amal adalah konsep melakukan setiap tugas atau pekerjaan dengan sebaik-baiknya, sepenuh hati, dan tanpa menunda-nunda.
Ini bukan sekadar menyelesaikan, tetapi menyempurnakannya hingga mencapai hasil yang terbaik.
Prinsip ini sangat ditekankan dalam ajaran Islam, baik dalam Al-Qur’an maupun Hadis.
- Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,
“Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Baqarah: 195)
- Dalam Hadis, Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah SWT mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sempurna.” (HR. Baihaqi)
Secara bahasa, itqan (sempurna) berasal dari kata atqana yang berarti menyelesaikan pekerjaan dengan cermat dan akurat.
Teladan dari Para Sahabat dalam Menguasai Pekerjaan
Para sahabat Nabi adalah contoh nyata penerapan prinsip itqan al-amal.
Berikut beberapa kisah yang menggambarkan bagaimana mereka mengamalkan prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari:
1. Kisah Ashim bin Kulaib
Dikisahkan oleh Ashim bin Kulaib, ayahnya menghadiri pemakaman bersama Rasulullah SAW.
Ketika jenazah sampai di kuburan, liang lahat belum siap.
Rasulullah SAW lantas berkata, “Ratakanlah liang lahat ini.”
Beliau terus mengulanginya hingga para sahabat mengira itu adalah sunnah yang wajib.
Setelah pekerjaan selesai, Rasulullah SAW melihat mereka dan menjelaskan,
“Sesungguhnya, ini tidak akan bermanfaat atau membahayakan bagi mayit. Namun, Allah menyukai seorang pekerja yang melakukan pekerjaannya dengan sempurna.”
Kisah ini menunjukkan bahwa kesempurnaan dalam pekerjaan bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang niat dan etos kerja yang dicintai Allah.
2. Kisah Amr bin Ash
Ketika Nabi Muhammad SAW menunjuk Amr bin Ash sebagai pemimpin ekspedisi Dzat as-Salasil, penunjukan ini mengejutkan sebagian sahabat.
Amr bin Ash baru saja masuk Islam sekitar lima bulan, dan di bawah kepemimpinannya terdapat banyak sahabat senior.
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan alasannya,
“Aku mengangkatnya (sebagai pemimpin) karena dia lebih ahli dalam urusan perang.”
Ini adalah bukti bahwa dalam Islam, penunjukan jabatan didasarkan pada keahlian dan kompetensi, bukan semata-mata pada senioritas atau waktu keislaman.
Rasulullah SAW memberikan amanah kepada yang paling mumpuni dalam bidangnya, menunjukkan betapa pentingnya penguasaan pekerjaan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.





One Comment