Pengajian
Trending

Kisah Taubat Kelompok Khawarij setelah uji intelektualitas Imam Ali

Ahmad AlfajriKisah Taubat Kelompok Khawarij setelah uji intelektualitas Imam Ali.

Kelebihan Ilmu dibandingkan dengan harta
Ilmu lebih mulia dibandingkan harta

Khawarij adalah sebuah firqah (kelompok) yang memisahkan diri dari barisan Imam Ali, atau lebih gampang diingat “mantan pasukan Imam Ali”. Keretakan hubungan berawal dari ketidak setujuan khawarij atas MoU perdamaian atau arbitrase dengan pihak Muawiyah yang sudah hampir kalah perang.

Ditengah gejolak pemberontakan oleh pihak khawarij, tersiar sebuah Hadis Nabi tentang kelebihan Imam Ali. Tentunya hal ini membuat gerah pihak Khawarij yang sedang membangun opini bahwa Imam Ali telah Kafir sebab menerima “tahkim” dengan pihak Muawiyah.

Para tokoh intelektual Khawarij yang mendirikan markas militer di camp “Harura”, berembuk dan mengatur strategi agar opini hoax yang sedang mereka rancang, tidak hancur berantakan dengan beredarnya Hadis Nabi yang menyanjung kredibilitas Imam Ali dari aspek intelektualitas.

انا مدينة العلم و علي بابها

Artinya: Saya adalah Kota Ilmu dan Ali adalah pintunya.

Lahirlah sebuah keputusan bahwa keilmuan Imam Ali harus di uji coba. Uji intelektualisan ini berawal dengan keyakinan bahwa Imam Ali pasti tidak akan lulus atau tidak mampu melewatinya. Uji intelektualitas yang dirancang adalah memberikan sebuah pertanyaan yang sama oleh 10 orang tokoh intelektual khawarij.

Jika jawaban yang diberikan Imam Ali merupakan jawaban yang sama dan dengan satu dalil atau alasan (illat), berarti mereka punya kesempatan untuk mengkritisi dan menolak kesahihan matan Hadis.

Menurut mereka, tidak mungkin seorang sosok yang digelar sebagai “Pintu Ilmu” hanya mampu memberikan satu jawaban dengan satu alasan saja dari satu pertanyaan oleh sepuluh penanya. Orang yang intelek tentunya akan memberikan jawaban disertai dengan ribuan dalil dan alasan.

Datanglah tokoh pertama hingga tokoh ke sepuluh secara bergantian membawa sebuah pertanyaan yang sama “Lebih utama ilmu ataukah harta?”. Lalu, Imam Ali memberikan sepuluh jawaban yang sama dengan alasan yang berbeda beda.

Jawaban Pertama: Ilmu Lebih Utama daripada Harta

Alasannya, Ilmu adalah warisan para Nabi dan Harta merupakan pusaka Qarun dan Fir’aun.

Hal ini senada dengan sabda Nabi:

العلماء ورثة الانبياء

“Ulama adalah warisnya para Nabi”

Jawaban kedua: Ilmu Lebih Utama daripada Harta

Alasannya adalah harta harus dijaga oleh empunya harta, sedangkan ilmu menjaga orang yang memilikinya.

Jika tidak dijaga, kemungkinan besar harta akan hilang. Hilang dengan beragam sebabnya seperti dicuri, lari ataupun tertukar. Adapun ilmu akan memproteksi orang yang memilikinya dari setiap hal dan tindakan yang berefek pada kehancuran.

Penting untuk dibaca: Kisah Sakitnya Nabi Ayyub hingga dimakan ulat bertentangan dengan akidah Ahlu Sunnah

Baca Juga: Hadis hadis tentang bersedekah

Jawaban ke tiga: Ilmu Lebih Utama daripada Harta

Alasannya adalah orang kaya pasti banyak musuh. Adapun orang yang berilmu pasti banyak sahabat.

Memang secara sepintas, terlihat bahwa orang kaya banyak teman. Tapi, teman yang datang disaat banyak harta bukanlah kawan sejati. Ada udang dibalik batu pertemanan mereka. Dan dalam kondisi tertentu, kawan seperti ini akan mengkudeta dan mengolah agar harta tersebut bisa dikuasainya.

Adapun ulama atau orang yang berilmu pasti akan banyak memiliki sahabat sejati. Musuh bagi orang yang berilmu hanya satu saja yaitu kebatilan. Bahkan pelaku kebatilanpun banyak yang taubat berkat keilmuan dan metode dakwah orang alim. Dan selanjutnya menjadi sahabat sekaligus pelindung ulama.

Jawaban ke empat: Ilmu Lebih Utama daripada Harta

Alasannya adalah harta secara otomatis akan berkurang jika ditransfer atau diberikan kepada orang lain. Sedangkan ilmu akan semakin bertambah dan lancar jika sering diberikan kepada orang lain.

Jawaban ke lima: Ilmu Lebih Utama daripada Harta

Alasannya adalah harta akan bermuara pada kebakhilan. Sedangkan ilmu akan bermuara pada kemuliaan.

Hartawan yang punya sifat menumpuk numpuk harta dan tidak berjiwa sosial akan disebut dengan Bakhil atau kikir/pelit. Adapun orang yang selalu mencari ilmu akan disebut sebagai ilmuwan. Semakin banyak ilmu semakin mulia dan semakin bermanfaat.

Jawaban ke enam: Ilmu Lebih Utama daripada Harta

Alasannya adalah pemilik harta akan berhadapan dengan pencurian dan kasus pencurian. Sedangkan ulama atau orang yang berilmu tidak akan menghadapi pencuri ilmu.

Salah satu perangkat elektronik yang digunakan oleh hartawan era modern sekarang adalah cctv dan alarm otomatis. Perangkat perangkat keamanan tersebut adalah untuk mengantisipasi dan meminimalisir delik pencurian. CCTV dan Alarm otomatis tidak dibutuhkan oleh orang yang berilmu karena memang tidak dapat dicuri.

Jawaban ke tujuh: Ilmu Lebih Utama daripada Harta

Alasannya adalah pemilik harta akan melalui proses hisab nantinya di akhirat. Adapun pemilik ilmu akan mendapatkan syafaat.

Sekecil apapun harta yang kita miliki, pasti akan melalui pintu hisab. Akan ada pertanyaan tentang sumber harta yang kita miliki. Apakah bersumber dari yang halal atau haram. Apakah harta yang kita miliki merupakan hasil sulap dari harta yang dialamatkan kepada fakir, miskin dan Dhuafa?

Berbeda kontras dengan orang yang berilmu. Ilmu akan menjadi payung bagi ahlinya nanti disaat huru hara hisab. Apalagi ilmuan yang berhasil mencetak ribuan ilmuan lainnya. Tentunya syafaat yang didapatkan akan berlipat ganda.

Jawaban ke delapan: Ilmu Lebih Utama daripada Harta

Alasannya adalah harta ada masa expired. Adapun ilmu akan tetap awet dan tidak ada istilah expired.

Pada saatnya, harta akan sampai pada masa tidak berlaku lagi. Harta dalam bentuk obat tidak dapat dikonsumsi jika sudah tiba masanya. Harta dalam bentuk kendaraan akan menjadi bahasan rongsokan pada masanya.

Adapun ilmu pengetahuan akan selalu awet dan bahkan akan semakin berbuah dengan lama masanya. Penghafal Alquran akan semakin lancar, jika dalam dadanya sudah tersimpan lama hafalan tersebut. Guru dayah akan semakin berkembang dengan lamanya masa mengajar dan mengabdi di dayah.

Jawaban ke sembilan: Ilmu Lebih Utama daripada Harta

Alasannya adalah harta menyebabkan kerasnya hati. Sedangkan ilmu akan membuat hati semakin bercahaya.

Banyak orang yang berharta bersifat sombong, menganggap rendah orang miskin, dan juga takut akan berkurang hartanya. Efeknya, jangankan sedekah, infaq dan wakaf, Zakat saja tidak berani untuk ditunaikan. Dan itulah salah satu tanda seseorang sudah dihinggapi penyakait keras hati.

Beda jauh dengan orang yang memiliki ilmu. Coba perhatikan, semakin alim seseorang maka akan semakin banyak sedekah yang diberikannya kepada fakir miskin. Semakin banyak ilmu seseorang, semakin tinggi jiwa sosialnya. Pengalaman penulis di Mesir, banyak dosen /ulama-ulama yang membantu keuangan mahasiswa. Ilmu diberikan, dana juga dibantu. Ya Rabb.

Jawaban ke sepuluh: Ilmu Lebih Utama daripada Harta

Alasannya adalah harta menyebabkan pemiliknya bersifat dengan sifat ketuhanan. Sedangkan ilmu menyebabkan ahlinya bersifat dengan sifat kehambaan.

Salah satu sifat ketuhanan adalah Takabbur atau sombong. Sifat ini tidak layak ada dalam diri seorang manusia. Banyak hartawan yang terjebak dengan sifat yang tidak layak ini.

Berbeda dengan ahli ilmu, semakin banyak ilmunya maka semakin menghambakan diri dihadapan Allah. Orang yang berilmu paling takut jika tidak mendapatkan ridha Allah atas semua tindakannya.

Taubatnya Khawarij setelah uji intelektualitas Imam Ali

Imam Ali paham dan mengerti bahwa pertanyaan dari sepuluh tokoh khawarij itu adalah sebuah uji intelektualitas beliau. Dengan tegas Imam Ali menyatakan: Jika pertanyaan ini diulang-ulang terus hingga wafatku, maka sungguh akan akun jawab dengan jawaban yang sama dan alasan yang berbeda-beda.

Kesepuluh tokoh penguji intelektualitas Imam Ali datang dan bertaubat. Pemikiran-pemikiran khawarij yang begitu radikal yang selama ini mereka gunakan, dibuang jauh-jauh. Keyakinan mereka kualitas kesahihan matan hadis “Saya (Nabi Muhammad) Kota Ilmu dan Ali adalah pintunya” sudah mantap dan tidak perlu diragukan lagi.

Demikianlah kisah taubat kelompok Khawarij setelah uji intelektualitas Imam Ali. Kisah ini merupakan kesimpulan pengajian rutin setiap malam jumat di Meunasah Kede Punteuet. Lhokseumawe. Dan Alhamdulillah kami dipercayakan untuk mengasuh pengajian ini. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Tags
Lihat Semuanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker