Kajian Umum

Memahami Waktu Shalat Dhuha Sesuai Sunnah

www.AhmadAlfajri.comMemahami Waktu Shalat Dhuha Sesuai Sunnah

Memahami Waktu Shalat Dhuha Sesuai Sunnah
Memahami Waktu Shalat Dhuha Sesuai Sunnah

Shalat dhuha adalah shalat sunat yang sangat terkait dengan waktu. Jika dilaksanakan bukan pada waktu yang telah ditetapkan, maka tidak dianggap sebagai shalat Dhuha.

Shalat Dhuha harus dilaksanakan pada waktu Dhuha. Shalat Dhuha juga tidak boleh dilakukan pada waktu Terlarang. Ini perlu dipahami, sebab waktu dhuha diapit oleh dua waktu terlarang.

Shalat dhuha berapa rakaat?. Begitulah salah satu pertanyaan yang sering diajukan masyarakat. Jawabannya adalah minimal rakaat shalat dhuha adalah 2 rakaat.

Selain itu, sering ditanyakan juga adalah shalat dhuha jam berapa?

Pada artikel kali ini kami ingin menulis dan berbagi tentang waktu Dhuha. Tujuannya adalah agar para pembaca dapat melaksanakan shalat Dhuha tepat pada waktu yang ditetapkan.

Waktu shalat dhuha

Waktu sejak terbitnya matahari hingga tergelincir terbagi kepada tiga waktu, yaitu waktu Dhahwah, waktu Dhuha dan waktu Dhaha.

Hal ini Sebagaimana telah dijelaskan oleh Syekh Muhammad bin Abdullah Al Quraisy Al Maliki dalam kitab Syarah Mukhtasar Khalil:

لِأَنَّ مِنْ طُلُوعِ الشَّمْسِ إلَى الزَّوَالِ لَهُ ثَلَاثَةُ أَسْمَاءٍ فَأَوَّلُهَا: ضَحْوَةٌ وَذَلِكَ عِنْدَ الشُّرُوقِ. وَثَانِيهَا: ضُحًى مَقْصُورٌ وَذَلِكَ إذَا ارْتَفَعَتْ الشَّمْسُ. وَثَالِثُهَا: ضَحَاءٌ بِالْمَدِّ وَذَلِكَ إلَى الزَّوَالِ. وَالْمُرَادُ بِالْوَقْتِ الَّذِي يُنْسَبُ إلَيْهِ الصَّلَاةُ ارْتِفَاعُ الشَّمْسِ وَهُوَ مَقْصُورٌ

Sungguh, waktu antara terbit matahari hingga tergelincir terbagi tiga. Pertama, waktu dhahwah. Waktu itu terjadi pada saat terbit. Kedua, waktu dhuha yang dibatasi dengan naiknya matahari. Ketiga, waktu dhaha. Waktu itu (dimulai dari habis waktu dhuha) hingga tergelincir matahari. Dengan demikian, yang dimaksud waktu yang dinisbahkan pada shalat dhuha adalah waktu di mana naiknya matahari. Naiknya matahari itulah yang menjadi batasnya,”

Baca Juga :  Kisah Taubat Kelompok Khawarij setelah uji intelektualitas Imam Ali

Dari pernyataan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa waktu yang dimulai dari terbitnya matahari hingga terbenam terbagi dalam tiga waktu. Yaitu:

Waktu Dhahwah

Waktu dhahwah adalah waktu yang dimulai dari terbit matahari hingga naik seukuran satu tombak.

Waktu Dhuha

Waktu Dhuha adalah waktu yang dimulai dari ketinggian matahari seukuran satu tombak hingga waktu istiwa.

Waktu istiwa itu sendiri adalah waktu dimana posisi matahari tepat di atas langit.

Waktu Dhaha

Waktu kau adalah waktu Di mana posisi matahari berada tepat di tengah langit atau istimewa hingga tergelincirnya matahari.

Saat matahari sudah tergelincir atau akhir dari waktu dhaha adalah masuknya waktu dzuhur.

Memahami waktu Dhuha

Waktu Dhuha Bukankah dimulai saat terbitnya matahari. Tapi, saat ketinggian matahari mencapai seukuran satu tombak.

Waktu untuk melaksanakan salat duha adalah saat posisi ketinggian matahari mencapai ukuran 1 tombak hingga sampai posisi matahari kepala di tengah langit.

Melaksanakan shalat dhuha sebelum posisi matahari seukuran satu tombak maka termasuk dalam kategori melaksanakan salat pada saat waktu Terlarang.

Sebab waktu dhahwah termasuk dalam salah satu waktu yang masih terlarang untuk melaksanakan ibadah shalat.

Sedangkan waktu Dhuha adalah waktu dimana berakhirnya larangan melaksanakan ibadah shalat. Batas terakhir waktu salat Dhuha adalah waktu istiwa yang merupakan waktu terlarang juga untuk melaksanakan ibadah shalat.

Jadi, Waktu dhuha itu diapit oleh dua waktu yang terlarang untuk melaksanakan ibadah shalat yaitu setelah shalat subuh dan waktu istiwa.

Berapa ukuran satu tombak?

Dalam hadis nabi yang menjelaskan bahwa waktu salat duha adalah saat ketinggian matahari mencapai satu tombak.

Terdapat perbedaan para ulama dalam memahami makna dari 1 tombak. Berikut ini ini beberapa penjelasan ulama tentang makna dari ketinggian matahari satu tombak.

  • Syekh Abu Sulaiman
Baca Juga :  Hukum Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh

Dalam kitab ma’alim Sunan, Syekh Abu Sulaiman menerangkan bahwa satu tombak yang dimaksud dalam Hadits hanyalah menurut ukuran pandangan mata telanjang.

  • Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar

Dalam kitab Hasiah bujairimi, Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar menerangkan bahwa ukuran satu tombak adalah 7 Hasta (Zira’) dalam pandangan mata telanjang.

  • Syekh Muhammad bin Ahmad bin Arafah Ad Dasuqi

Dalam kitab hasyiyah dasuqi ala Syarhil Kabir, Syekh Dasuki menerangkan bahwa satu tombak ukurannya adalah 12 jengkal ukuran sedang.

  • Syekh Wahbah Az Zuhaili

Dalam kitab fiqih Islam wa adillatuhu, Syekh Wahbah Zuhaili menerangkan bahwa yang dimaksud satu tombak adalah ukuran 2,5 meter.

Berikut ini pernyataan Syekh Wahbah Az Zuhaili:

وطول الرمح:50،2م أو سبعة أذرع في رأي العين تقريباً، وقال المالكية: اثنا عشر شبراً

Artinya, “Satu tumbak itu sepanjang 2,5 meter, atau kira-kira tujuh hasta dalam penglihatan kasat mata. Sedangkan menurut para ulama Maliki, satu tumbak adalah 12 jengkal

  • Syekh Wahbah Zuhaili

Masih menurut Syekh Wahbah Az Zuhaili sebagaimana tercantum dalam kitab fiqih muyassar bahwa waktu Dhuha jika dikonversi ke waktu maka satu tombak ukurannya adalah kira-kira 1/4 sampai 1/3 jam.

Atau jika dikonversi menjadi menit, maka ukuran satu tombak adalah sekitar 15 sampai 20 menit sejak terbitnya matahari.

Lebih jelasnya, Syekh Wahbah Zuhaili menerangkan bahwa ukuran satu tombak adalah satu meter dalam pandangan mata kasat.

الثاني: من طلوع الشمس حتى ترتفع قدر رمح في رأي العين، وهو قدر متر تقريباً، ويقدر بالوقت بحوالي ربع الساعة أو ثلثها. فإذا ارتفعت الشمس بعد طلوعها قدر رمح فقد انتهى وقت النهي،  ورد في حديث ابن عبسة حتى يعدل الرمح ظله

Baca Juga :  Memahami Tata Cara Wudhu Dan Doanya

Waktu terlarang yang kedua adalah dari terbit matahari hinggi naik setinggi satu tumbak dalam pandangan kasat mata, yaitu kira-kira satu meter. Jika dikonversi kepada waktu, kira-kira selama seperempat atau sepertiga jam. Setelah matahari naik satu tumbak, maka berakhirlah waktu terlarang. Namun, dalam hadits riwayat ‘Abasah disebutkan, hingga bayangan tumbak sama dengan panjang tumbaknya

Kesimpulan

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam tafsirkan ukuran 1 tombak. Di atas telah kami Sebutkan beberapa penjelasan dari pada ulama yang berbeda ada kentang waktu awal Dhuha.

Masih banyak pendapat pendapat ulama lainnya yang juga sangat berbeda. Ada yang mengatakan bahwa ukuran 1 tombak itu adalah 4 derajat. 1 derajat adalah 4 menit. Maka 4 * 4 = 16 menit sejak terbitnya matahari.

Agar lebih gampang, Anda dapat merujuk kepada jadwal imsakiyah yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga Kredibel.

Biasanya, di sana sudah dicantumkan waktu terbitnya matahari. Lalu, Anda tambahkan 15 hingga 20 menit. Jumlah Menit tersebut adalah pertanda masuknya waktu Dhuha.

Demikian saja artikel singkat kami tentang waktu salat Dhuha. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Tags
Lihat Semuanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker